FAKTA DIBALIK ORANG PENDEK
Di kedalaman hutan Sumatra yang luas, penduduk setempat telah melaporkan bahwa mereka melihat seekor makhluk yang terlihat seperti kera, namun berjalan layaknya kita. Mereka memanggilnya Orang Pendek(or 'short man'). Beast hunter Pat Spain menggali lebih dalam ilmu pengetahuan dari makhluk mitologis ini. Berikut adalah bukti faktual dan konteks sejarah yang berhubungan dengan perburuan ini.
- Pada abad ke-18, Carl Linnaeus - penemu sistem pengklasifikasian biologi modern mendaftar dua spesies manusia yang ada : Homo sapiens dan Homo troglodytes (manusia gua). Dia juga memasukkan grup ketiga - Homo ferus (berarti manusia liar) ke dalam Homo sapiens.
- Orang Pendek terkadang juga disebut sebagai 'Sedapa', dan di hutan dekat Kalimantan terdapat laporan serupa dari makhluk yang dikenal sebagai 'Batutut'. Variasi daerah lain diantaranya 'Orang Gugu' dan 'Ebu Gogo'. Meskipun namanya berbeda, deskripsinya sangat mirip.
- Suku Anak Dalam atau Orang Rimba, yang berarti 'anak hutan', adalah orang pribumi di Provinsi Jambi di Sumatra. Populasi mereka sekitar 2500. Kebanyakan tinggal di hutan namun sekarang semakin terpinggirkan karena deforestasi yang terjadi terus menerus di area mereka. Suku tersebut mendeskripsikan makhluk kecil mirip kera yang dikenal sebagai 'Hantu Pendek' yang lebih sering dihadapi oleh nenek moyang mereka.
- Kemampuan berjalan tegak yang membedakan manusia dari spesies lain, menjadi salah satu ciri yang paling luar biasa dari Orang Pendek. Meskipun beberapa primata mampu berjalan dengan dua kaki, merekan tidak berevolusi untuk melakukannya dalam cara yang sama seperti manusia. Transisi menuju bipedal terjadi pada tahap awal evolusi hominid dan membutuhkan adaptasi utama kerangka dan otot kaki yang mendukung. Primata belum berkembang ke paha dan struktur tulang lutut yang sama seperti manusia; oleh karena itu mereka berjalan dengan kaki melebar dan menghentakkan seluruh tubuh mereka dari sisi ke sisi untuk memindahkan pusat gravitasi ke kaki di mana bantalan berat badan mereka berada.
- Di tahun 2002 ekspedisi Inggris ke Sumatra untuk mencari Orang Pendek kembali dengan jejak kaki dan dua helai rambut yang diyakini berasal dari makhluk tersebut. Mr Hans Brunner dari Universitas Deakin di Melbourne, yang terkenal bersaksi dalam kasus 'Dingo baby' Lindy Chamberlain, menawarkan untuk menganalisa sample rambut. Dia tak bisa menemukan kecocokan dengan spesies yang sebelumnya diketahui.
- Ilmuwan Jeffrey Schwartz dan John Grehan telah mengsugesti bahwa manusia lebih berkaitan dengan orangutan dibandingkan simpanse, bertentangan dengan yang telah diperkirakan sebelumnya.Mereka meneliti keunikan fisik dan perubahan karakteristik yang menghubungkan manusia dan kera besar dan menemukan bahwa manusia memiliki kesamaan sejumlah 28 dari 63 karakteristik dengan orangutan, berbeda dari 2 untuk simpanse dan 7 untuk gorilla.
- Liang Bua adalah nama gua batu kapur karst dimana yang disebut Homo florosiensis ditemukan. Kerangka yang terlengkap dari spesies berbeda yang diusulkan pada situs ini dikenal sebagai LB1. Gua ini terletak di Lembah Wae Racang di ujung daerah barat pulau kecil Flores di Indonesia.
- Fossil yang ditemukan di Gua Liang Bua baru-baru ini ditanggalkan berumur 12.000 tahun yang lalu. Sejak penemuan lain menunjukkan bahwa manusia modern tiba di Flores antara 55.000 dan 35.000 tahun yang lalu, mereka mungkin saja berinteraksi dengan Homo floroensis, menunjukkan bahwa di masa yang cukup baru dua spesies manusia yang berbeda setidaknya kontemporer menjadi salah satu bagian dari dunia.
- Fossil lain yang ditemukan di pulau Flores telah mengungkapkan bahwa Homo floroensis telah berbagi lingkungannya dengan gajah kerdil yang disebut stegodons, tikus raksasa, dan kadal raksasa yang dikenal sebagai komodo, yang masih ditemukan di pulau.
- Manusia Flores aka 'hobbit' menggunakan api untuk memasak dan berburu stegodons. Meskipun mereka adalah gajah kerdil, mereka merupakan tantangan signifikan bagi para pemburu berukuran hobbit. Oleh karena itu para peneliti telah berspekulasi bahwa latihan berburu memerlukan gabungan komunikasi, peralatan dan rencana, serta dengan sengaja menargetkan gajah yang lebih kecil dan lebih muda. Makanan manusia Flores juga termasuk ikan, kodok, ular, kura-kura, burung dan tikus.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Comment allowed